Menelusuri Narkoba Digital, I-Doser di Semarang

Kembali maraknya perbincangan tentang aplikasi I-Doser, membuat Savitri Nur Asmiyati, seorang guru SMA di Kota Semarang, merasa khawatir jika anak dan siswanya kemudian ikut membuka aplikasi tersebut.

Savitri yang mempunyai anak duduk di bangku kelas SMA, khawatir aplikasi tersebut benar-benar memberikan efek seperti narkotika. Berdasarkan kabar yang diterimanya, I-Doser bisa memberikan efek seperti narkotika sungguhan.

"Saya pernah dengar katanya memang memberikan efek seperti itu. Makanya saya jadi khawatir jika anak dan siswa mencobanya," katanya kepada Tribun Jateng, kemarin.

Savitri pun mendesak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memblokir aplikasi yang berpotensi membahayakan masa depan generasi muda Indonesia, termasuk aplikasi I-Doser. Menurutnya, I-Doser bisa memicu orang untuk menikmati obat terlarang.

"Dengan menikmati I-Doser ternyata mereka tidak menikmati seperti yang digemborkan, maka siswa atau siapapun pendengarnya akan terpancing mencoba barang yang asli. Ini mengkhawatirkan dan harusnya pemerintah tidak mengizinkan aplikasi semacam itu beredar," tandasnya.
Aplikasi I-Doser yang sempat dijuluki sebagai “narkoba digital” kembali ramai diperbincangkan di media sosial maupun melalui WhatsApp dan Blackberry Messenger (BBM).
Dalam informasi yang berkembang di BBM disebutkan bahwa dr Reisa Brotoasmoro, salah satu host dr Oz Indonesia menceritakan pengalamannya mencoba I-Doser, yang menurutnya memiliki efek seperti orang sakaw.

Dia pun mengingatkan para orangtua untuk mewaspadai penggunaan smartphone anaknya karena aplikasi ini bisa diunduh dengan mudah.

“Saya tidur nyaman sekali, terasa deep sleep. Bangun2 bisa langsung seger banget (biasanya mesti males2an dulu). Kulit terasa kencang, raga bersemangat...! Saya pikir enak juga nih, brainwave ini bisa bikin deep sleep. Tapiiiii ternyata, ampun makin siang saya mulai terasa kleyengan. Badan mulai terasa gak enak, perut mual karena asam lambung saya naik, mata merah sudah persis seperti orang sakaw,” kata pesan yang tersebar dalam BBM tersebut.

Setengah percaya


Guru SMK di Semarang Wahyu Dwi Arianto mengatakan, dirinya sudah lama mendengar isu narkoba digital yang sering disebut dengan nama I-Doser. Hanya saja, guru teknik listrik ini enggan mencobanya. "Saya tahunya dari teman. Hanya dengar saja sih, tidak pernah dan tidak mau mencobanya," kata Wahyu, kemarin.

Saat ditanya mengenai bahaya aplikasi yang berisi playlist musik ini, Wahyu setengah percaya setengah tidak. "Biasanya orang yang makai narkoba atau narkotika, itu kan ngefly atau sakaw. Lha sampai saat ini tidak ada yang seperti itu. Malah isinya lagu biasa dan bisa ditemukan dimanapun," ujarnya.

Meski demikian, dirinya merasa khawatir jika banyak siswa tetap mencoba aplikasi tersebut. "Khawatirnya kalau anak-anak itu ikut-ikutan mencoba. Lalu mereka mengenal obat terlarang dan nantinya akan mencari barang aslinya," bebernya.
Mengenal teknologi

Sarwo Edi (58), warga Ungaran turut resah dengan kemunculan berbagai aplikasi yang berpotensi membahayakan anak. Ketidakjelasan efek suatu aplikasi seperti I-Doser membuat para orangtua makin khawatir. Namun, apapun itu, ia menilai peran orangtua sangat penting dari sisi pengawasan. Orangtua harus bisa menempatkan diri sebagai teman bagi anak. "Harus kenal juga sahabat dan teman dekat anak biar bisa memantau," jelasnya.

Ketika ortu sudah dekat dengan anak, kemanapun anak pergi pasti memberi kabar. Kalaupun pergi pasti tidak jauh dari teman dekatnya. "Orangtua juga harus paham tentang teknologi," ucapnya. Sarwo mengatakan,dengan paham teknologi, orangtua bisa berdiskusi dengan sang anak, sehingga bisa memantau perkembangan anak.

Hal senada diungkapkan oleh Titah, warga Ungaran lainnya. Isu I-Doser membuatnya penasaran. Apalagi isu itu diterimanya melalui broadcast BBM. "Saya pernah dapat BCnya, tapi belum tahu pastinya," katanya.

Sebagai orangtua, ia turut kepikiran jika ada broadcast semacam itu, terlepas benar atau tidaknya. "Saya hanya ingin yang terbaik bagi anak," tandasnya. (tim/tribunjateng/semarangupdate)

0 Response to "Menelusuri Narkoba Digital, I-Doser di Semarang"

Post a Comment