Kisah Tulus Pria yang Rela Tinggalkan KTP Demi Seorang Gelandangan di Semarang

Ada pemandangan unik di Jalan Prof Hamka, Ngaliyan, Selasa (20/9). Seorang pemuda tampak telaten merawat kaki seorang pria berpakaian mirip gelandangan. Faisal Mufti, warga Mijen itu nampak telaten merawat kaki seorang pria gelandangan di trotoar Jalan Prof Hamka, Ngaliyan, tepatnya di depan kampus 2 UIN Walisongo, Selasa (20/9).

Mulanya ia mencopot plastik kresek pembungkus luka di kaki pria itu. Faisal butuh waktu agak lama untuk melepas plastik yang melengket keras pada bekas luka kaki pria itu. Setelah plastik dibuka, terlihat kakinya telah bengkak dan membesar.


Kisah Tulus Pria yang Rela Tinggalkan KTP Demi Seorang Gelandangan di Semarang


"Kakinya sudah membusuk. Ngakunya dia orang Pati, terluka karena kecelakaan. Nanti saya mau bawa ke rumah sakit karena kemungkinan sudah infeksi lukanya," ujarnya, kepada Tribun Jateng, Selasa (20/9).

Pria gelandangan itu pun sampai meringis pesakitan, saat Faisal perlahan mencabut plastik yang menempel pada kakinya. Faisal lantas mengucurkan alkohol pada bekas luka, lalu membersihkannya dengan kapas. Selanjutnya ia menyiram bekas luka itu dengan obat Betadine, lalu membungkusnya dengan perban yang dilapisi kapas. Sembari merawat, Faisal mengajak bercengkerama pria tersebut dan memberinya sebatang rokok.

"Saya hanya yakin, Tuhan juga bersama orang yang kekurangan. Sehingga saya tulus melayani mereka," kata Alumnus Universitas Tujuh Belas Agustus Semarang tersebut.

Aksi Faisal merawat orang terlantar di trotoar itu pun sempat menyita perhatian para pengendara yang melintasi jalan. Beberapa di antaranya sempat menghentikan kendaraan dan menonton kejadian tersebut.

Faisal mengaku, kebetulan melihat pria tersebut berjalan pada tanjakan Jalan Prof Hamka, dekat Kampus 2 UIN Walisongo. Pria bertelanjang dada itu berjalan dengan menyeret kaki kirinya yang pincang. Kaki tersebut terbungkus plastik sampai menutupi mata kaki.

Faisal yang saat itu mengendarai motor berboncengan dengan rekannya, berusaha menghentikan langkah pria tersebut. Faisal membujuk pria itu agar bersedia dirawat kakinya, sementara temannya pergi membeli obat serta pakaian untuk dikenakan pada pria terlantar tersebut. Pria telantar itu pun menurut saat dirawat.

"Banyak yang merasa beriman, tapi melihat ada orang telantar butuh pertolongan dibiarkan. Saya melihat banyak orang telantar dan kekurangan dibiarkan di sini," katanya. Setelah beberapa jam merawat orang telantar di trotoar Jalan Prof Hamka, Faisal memutuskan membawa pria tersebut ke RSUD Tugurejo untuk penanganan lebih lanjut.

Untung saja, pihak rumah sakit menerima pasien gelandangan itu dengan positif. Faisal sebelumnya mengaku sempat khawatir bakal ditolak rumah sakit lantaran membawa pasien yang tak jelas identitasnya.

"Dirawat selama sejam terus dikasih obat. Saya bersyukur pihak rumah sakit baik dan biayanya digratiskan," katanya. Setelah mendapatkan perawatan dari RSUD, Faisal lantas membawa gelandangan pesakitan itu ke panti rehabilitasi Kota Semarang Among Jiwo.

Di situlah, Faisal dibuat pusing dan menemui hambatan. Pengelola Among Jiwo, kata Faisal, mensyaratkan adanya surat pernyataan dari pihak yang bertanggung jawab atau surat pengantar dari RT dan RW.

"Saya kan bukan asli Semarang, asli Sumatera Barat. Identitas orang telantarnya juga tidak jelas. Saya mengajukan surat pengantar ke RT RW tapi gak dapat," katanya.

Faisal berharap agar tidak dipersulit warga ingin memasukkan orang telantar atau gelandangan ke panti rehabilitasi. Sebab, menurut dia, perlindungan terhadap orang telantar atau gelandangan sudah menjadi tanggung jawab pemerintah sesuai amanat Undang-undang. Fungsi keberadaan panti sosial, kata Faisal, juga diperuntukkan untuk itu.

"KTP saya sampai saya tinggal buat jaminan di panti karena tidak membawa surat pengantar. Saya masih bingung mengurusi persyaratan karena saya bukan asli sini. Saya cuma ingin orang telantar itu dirawat, saya juga akan sering menjenguk untuk mengantar kontrol ke rumah sakit," katanya.

Humas RSUD Tugurejo Dwi Astuti mengatakan, sebagai rumah sakit milik pemerintah, pihaknya melayani pemeriksaan kesehatan masyarakat tanpa pandang bulu, termasuk gelandangan atau orang telantar dengan dibiayai negara.

Pihaknya juga bukan kali ini saja memberikan perawatan kepada pasien orang telantar. "Setelah sembuh biasanya kami kirim ke panti sosial, seperti Among Jiwo atau panti Margo Widodo," katanya. (tribun jateng)

0 Response to "Kisah Tulus Pria yang Rela Tinggalkan KTP Demi Seorang Gelandangan di Semarang"

Post a Comment