Dinas Tata Kota dan Perumahan (DTKP) Kota Semarang mengadakan Focus Group Discussion (FGD) pembangunan Pasar Johar di Jalan Agus Salim yang digelar di Borobudur Meeting Hotel Santika Premiere Semarang, (15/9). Dalam FGD tersebut, DTKP mengundang berbagai unsur di antaranya akademisi, tim ahli, Dewan Pertimbangan Dan Pembangunan Kota Semarang (DP2K), Badan Pengelola Kawasan Kota Lama Kota Semarang (BPK2L), Tim Ahli Cagar Budaya Kota Semarang (TACB), pedagang, dan arsitek.
Dua narasumber dihadirkan dalam acara tersebut, pertama, Budie Lim yaitu Arsitek Nasional dan cagar Budaya. Kedua, Prof. Ir. Totok Roesmanto, M.Eng yang merupakan Akademisi dan Praktisi Cagar Budaya. Sementara sebagai moderator adalah Ir. M. Farchan, MT.
Sekretaris Dinas Tata Kota dan Perumahan (DTKP) Kota Semarang, M Irwansyah mengatakan tujuan dari FGD untuk memperoleh masaukan dari informasi yang bersifat lokal dan spesifik dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kota, praktisi, akademisi pemerhati Kota Semarang serta stakeholder terkait.
"FGD dilakukan agar perencanaan Pasar Johar bisa tersusun secara optimal dan direalisasikan fisiknya mulai tahun 2017 secara bertahap. Dengan perencanaan dan pelaksanaan fisik yang baik, Pasar Johar dan kawasannya akan menjadi ikon Kota Semarang dan kebanggaan warga masyarakat Kota Semarang," ujarnya.
Irwansyah mengatakan, Pasar Johar Semarang dibangun oleh Thomas Karsten dengan konsep Green Building, yaitu bangunan yang sudah memperhatikan lingkungan dan kesehatan. "Oleh karena itu, kami akan fokus pada cagar budaya agar tetap dipertahankan. Setelah itu, barulah kami mengembangkan bangunan baru," ujarnya.
DTKP, kata Irwansyah, sedang menunggu pendataan jumlah pedagang dari Dinas Pasar. "Pendataan jumlah pedagang diperlukan agar dalam perancangan DED (Detail Engineering Design) kali ini tepat dan langsung bisa dijalankan. Saat ini DED sudah mencapai sekitar 50 persen," ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mewanti-wanti DTKP terkait pembangunan pasar yang melebihi tiga lantai. Hal itu disebabkan pengalaman sebelumnya bahwa pasar berlantai tinggi justru kurang diminati pedagang dan pembeli.
Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi menginginkan agar dalam perancangan DED, memperhatikan 7.000 lebih pedagang agar semuanya bisa masuk dan nyaman di Pasar Johar.
"Saya berharap DED tidak asal-asalan. Jangan hanya proyek saja tapi mohon dicermati dengan baik oleh pemerhati karena Pasar Johar merupakan bangunan cagar budaya. DED bisa rampung akhir 2016. Dengan demikian, Pemkot Semarang bisa segera mencari bantuan anggaran dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat untuk pembangunan Pasar Johar," ujarnya.

0 Response to "Wali Kota Hendi Ingin Pasar Johar Tidak Lebih dari Tiga Lantai"
Post a Comment